Sabtu, Februari 06, 2010

KEPERCAYAAN DIRI


Anda pernah mendengar istilah Pygmalion effect?

Pygmalion effect adalah suatu pengaruh harapan yang positif terhadap kinerja dan hasil yang lebih baik.

Pernah ada suatu percobaan terhadap siswa di kelas. Terhadap siswa tertentu yang nilainya di bawah rata-rata, guru-guru diminta untuk memberikan harapan yang lebih besar dan membantu meyakinkan diri mereka bahwa mereka bisa mencapai lebih baik dari hal yang mereka capai, tanpa sepengetahuan murid lainnya


Dan hasilnya seperti yang kita perkirakan, bahkan siswa yang dianggap paling tolol oleh teman-temannya, ternyata dapat menjadi superior seperti yang diharapkan dan diyakini guru mereka.

Bayangkan jika yang terjadi sebaliknya, berapa banyak kerugian dan kehilangan yang anda alami, jika anda kurang meyakini diri anda.

Dan satu hal yang paling penting adalah manusia diciptakan tidak hanya diberikan bakat dan kemampuan tertentu, tetapi juga kemampuan dan kepastian untuk bisa mencapai semua hal terbaik dari bakat dan kemampuan tersebut.

Andalah satu-satunya orang yang paling bertanggung jawab untuk mengharapkan dan meyakini hal yang lebih baik dan yang terbaik yang bisa anda capai dari hidup anda.



Selengkapnya...

Senin, Desember 21, 2009

Ketekunan Dan Ketidakadilan Hidup


Apapun yang ada di dunia ini tidak bisa menggantikan ketekunan.

Bakat tidak akan bisa menggantikannya.

Buktinya banyak orang berbakat yang gagal.

Jenius juga tidak akan bisa menggantikannya.

Pendidikan juga tidak bisa.

Dunia ini penuh gelandangan terpelajar.

Ketekunan dan kebulatan tekad menentukan segalanya.

Orang-orang hebat sepanjang sejarah manusia adalah orang-orang biasa sama seperti kita yang memiliki banyak kekurangan dan kelemahan,

Tapi mereka membangun kebulatan hati dan ketekunan untuk tidak pernah mau menyerah kepada setiap kekurangan dan ketidakadilan hidup yang mereka terima sejak lahir.



Selengkapnya...

Kamis, Desember 03, 2009

Film "Balibo" Dilarang Diputar di Indonesia

JAKARTA,— Indonesia melarang pemutaran film Balibo yang mengangkat kasus tewasnya 5 wartawan Australia dalam sebuah serangan pasukan Tentara Nasional Indonesia di Timor Timur pada 1975. Lembaga Sensor Film tidak menyampaikan alasan pelarangan film yang telah ditinjau pada Selasa (1/12).

Direktur Program Jakarta International Film Festival (JiFFest) Lalu Roisamri menjelaskan rencananya untuk mengajukan banding terhadap keputusan sensor itu. Pihak Lembaga Sensor Film menolak berkomentar saat ditanya oleh Associated Press, Selasa, mengenai larangan penayangan film soal tewasnya 5 wartawan Australia di Kota Balibo selama berlangsung pertempuran sengit antara pasukan TNI dan gerilyawan Timor Timur.


Larangan ini diumumkan 2 jam sebelum Jakarta Foreign Correspondents’ Club (JFCC) menyelenggarakan penayangan secara terbatas film ini di sebuah teater di Jakarta. Menurut Presiden JFCC Jason Tedjasukmana, akhirnya klubnya memutuskan untuk tidak menayangkan film ini meskipun belum ada keputusan resmi dari Pemerintah Indonesia mengenai larangan tersebut.

Tedjasukmana menerangkan, JFCC bisa dianggap melanggar hukum apabila menayangkan film terlarang itu di sebuah lokasi umum. "Ini memang bukan keputusan mudah...tetapi kami menghormati hukum di Indonesia," ujar Tedjasukmana.

Bulan lalu, Juru Bicara Deplu Teuku Faizasyah menerangkan bahwa film ini, berdasarkan ulasan yang ada, dikhawatirkan akan membangkitkan luka lama hubungan Indonesia dan Australia. Namun, Teuku Faizasyah juga tidak setuju dengan anggapan bahwa film ini hanya merupakan fiksi.

Sungguh ironis dimana saat kita gembar-gemborkan sebuah keterbukaan daatau transparansi diberbagai lini, ini malah ada sebuah perencanaan pembohongan publik. bagaimana tidak ! Film aalah salah satu dari sekian banyak media untuk berkomunikasi. yang artinya film juga bisa dijadikam media jurnalistik. malah sekarang muncul pelarangan yang alasannya hanya sebatas sebuah rasa malu atas sebuah tindakan.

Toh itu sudah terjadi dan itu adalah sebuah fakta henapa musti didustakan. Marilah kita membuka mata dan belajar mempercayai bahwa masyarakat Indonesia itu sudah cerdas dan bisa mengukur sesuatu dengan dasar pemikiran yang lebih rasional. Bukan masyarkat yang mudah menilai dengan dasar sepicikan mata.

Sumber : Kompas.com



Selengkapnya...

BARA @PI Headline Animator

My Headlines